Postingan

Terusan Api Dibukit Menoreh Jilid 415 Bag. 1

TANPA  sadar Ki Demang menatap tajam ke arahnya sehingga dengan cepat orang itu menundukkan wajahnya. “Baiklah,” akhirnya Ki Demang tidak dapat mengelak lagi walaupun dengan berat hati, “Panggil Nyi Sekarwangi. Namun  tolong sampaikan padanya bahwa tamu kita kali ini adalah Pangeran Pringgalaya, adik Panembahan Hanyakrawati penguasa Mataram.” “Baik Ki Demang,” jawab perangkat Kademangan yang berumur masih muda itu. Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, dengan cepat dia segera meninggalkan tempat itu. “Marilah kita membagi tugas” berkata Ki Demang kemudian, “Aku dan dua orang perangkat kademangan saja yang akan menghadap Pangeran Pringgalaya. Sedangkan selebihnya segera menghubungi para Niyaga agar pada saat jamuan makan malam nanti sudah ada gending-gending yang mengiringinya. Setelah itu aku harap semua perangkat Kademangan menemani aku di pendapa.” “Baik Ki Demang,” hampir serempak mereka menjawab. Demikianlah, pertemuan Ki Demang dengan para perangkatnya i...

Terusan Api Dibukit Menoreh Jilid 414 Bag. 4

ut Ki Tanpa Aran cepat, “Atas seijin Yang Maha Agung, kami berdua yang sudah renta ini dengan berbekal Aji Pangrupak Jagad masih mampu melakukan tugas-tugas yang diberikan Kanjeng Sunan kepada kami.” Raden Mas Rangsang untuk sejenak terdiam. Pandangan matanya masih saja terpaku pada kegelapan yang semakin dalam di luar goa. “Raden,” berkata Ki Tanpa Aran kemudian memecah kesunyian, “Sesuai dengan pesan Kanjeng Sunan, sebaiknya kita segera memulai untuk mengkaji Asma-AsmaNYA Yang Maha Agung untuk kita dalami dan resapi sehingga nantinya akan bermanfaat dalam kehidupan bebrayan kita.” Raden Mas Rangsang bagaikan tersadar dari sebuah mimpi panjang. Sambil menarik nafas panjang terlebih dahulu, dia segera membenahi letak duduknya. Katanya kemudian sambil memandang Ki Tanpa Aran, “Baiklah Ki, aku kira memang sudah waktunya untuk dimulai.” Demikianlah sejenak kemudian kedua orang yang umurnya terpaut sangat jauh itu segera tenggelam dalam perbincangan yang sarat dengan ilmu   sa...

Terusan Api Dibukit Menoreh Jilid 414 Bag. 3

“Aku memerlukan pertimbangan dari seseorang yang aku percaya untuk memilih jalan hidupku nantinya yang berhubungan dengan kawruh kasampurnaning ngaurip ,” berkata Anjani sambil menghirup udara pegunungan yang segar. Dipenuhi rongga dadanya dengan udara yang bersih dan murni sebelum akhirnya dihembuskannya kuat-kuat. Seolah-olah ingin dibuang semua persoalan yang sedang membelit hatinya. Tiba-tiba Kanjeng Sunan yang berjalan di depan menghentikan langkahnya. Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di ujung lereng yang landai dan kini di hadapan mereka telah terhampar hutan lebat yang membujur di sepanjang lembah Perbukitan Menoreh. Sejenak Kanjeng Sunan tampak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memutar tubuhnya menghadap kedua orang dibelakangnya. Berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Semoga Yang Maha Agung mengijinkan kita sampai di kediaman Ki Gede sebelum Matahari benar-benar terbenam.” “Sendika Kanjeng Sunan,” jawab Cantrik Gatra Bumi sambil membungkukkan badannya. Sementara...